Wednesday, July 18, 2007

mari mencontek!!!

Semarang 23:55 15/07/07

Mari mencontek!

Yep! Mencontek itu boleh kok... tau ga sih kalo dulu founding father negara kita, negara Indonesia, bung karno, mendukung tindakan mencontek, dikutip dalam buku ‘kisah para diktator’ (yep! Beliau dianggap salah satu dari 16 diktator besar selain hitler, mussolini & putin) dalam buku ini tertulis bung karno tidak melihat ada yang salah ketika mencontek pada ujian “ini masuk kedalam apa yang kita sebut dengan gotong-royong” dijelaskannya...

Weitz... tunggu dulu! Jangan ditelan mentah-mentah ucapan beliau, sebagai orang yang bijak, kita harus mengambil sisi positif dari sikap seseorang, dan menurut saya juga demikian, mencontek itu boleh dan bahkan harus, tapi... harus ada pengembangannya, mungkin lebih ke benchmark, bukan plagiat, karena beda ya plagiat dengan benchmark, kalo plagiat itu copy – paste, kalo benchmark itu copy then modify!
Kalo kata adri maadsa (seorang yang dijuluki penyebar virus entrepreneur) bilang kunci sukses dalam berbisnis itu adalah ATM atau Amati, Tiru, Modifikasi. Dalam proses amati kita melihat, mencari, atau bahkan menciptakan suatu peluang. Then setelah ada yang mau dikelola, kita cari padanannya, perusahaan serupa yang telah sukses dalam bidangnya, kemudian kita ambil yang baik dan merusaha memperbaiki yang kurang sesuai dengan konsep kita, then modifikasi, beri sentuhan differensiasi yang menjadi suatu pembeda dan ciri khas dari konsep kita...!

Saya rasa ini benar dan tepat, serta aplikatif... didunia ini semua orang sukses pasti mencontek dari kesuksesan-kesuksesan lain yang sudah ada, leonardo da vinci mencotek alam dan menciptakan konsep awal helikopter dari se-ekor capung, wright brothers mencontek dati se-ekor burung dan menciptakan pesawat. Ccoba bayangkan apabila semua orang selalu menciptakan konsep mentah dari awal, membuat sesuatu dari awal, pasti dunia tidak akan se-canggih dan semodern sekarang ini, ga ada handphone, karena pencipta handphone mencontek ciptaan graham bell, ga ada lampu LED (light emitting diode – lampu mini menggunakan prinsip semikonduktor), karena pencipta LED sudah pasti mencontek dan meneruskan penemuan lampu pijar Alfa Edison, sistem-sistem akuntansi, ekonomi, pembukuan juga tidak akan secanggih ini. Karena suatu sistem yang bagus dan canggih pasti selalu merupakan perbaikan dari sistem-sistem lain sebelumnya...

Then apa salahnya kita mencontek? Asal tadi itu, jangan plagiat, kalo orang indonesia rata-rata mereka melakukan kegiatan plagiasi, pembajakan VCD, DVD, Program, Game, Operating System, dan sebagainya, ga munafik sih, saya juga pengguna hasil mereka, tapi lucunya kenapa sih sangat sedikit dari kita yang berusaha memodifikasi dari apa yang kita bajak dan menciptakan sesuatu yang lebih baik? Padahal dengan kita mengamati sistem yang sudah ada, kemudian kita tiru dan beri sedikit sentuhan modifikasi kita bisa menciptakan sesuatu... tapi kenapa ya ga ada yang demikian, senengnya copy –paste aja, sebegini malaskah anak bangsa negara ini?

Back again, mari mencontek! banyak manfaat dari mencontek... mencontek dengan menginspirasi hanya beda setipis rambut! dengan mencontek kita tidak lagi memulai dari nol, kita dapat meneruskan suatu ciptaan, system, program yang sudah ada, dari sini malah kita mendapat kesempatan untuk menciptakan sesuatu yang lebih baik dari ciptaan sebelumnya, kita tidak perlu lagi susah-susah memulai dari awal... mari kita merubah paradigma dan pandangan kita soal mencontek! mari mencontek! gak hanya mencontek, tapi juga modifikasi! Thank’s to pak adri maadsa atas konsep ATM nya yang baik, dan menjadi paduan saya dalam mencipta pemikiran baru...

Mari kita belajar dengan moncontek!

jangan terlalu merasa memiliki

23:52 14/07/07
Jangan terlalu merasa memiliki!

Mungkin judulnya agak rancu yah... but please believe me! Jangan pernah kita merasa memiliki seseorang maupun sesuatu, again, this is another learning from my experience.

Suatu ketika aku merasa telah memiliki seseorang, benar-benar memiliki, hingga seolah aku merasa aku tidak akan kehilangan dia, aku merasa memilikinya sepenuhnya, sehingga seolah aku hanya berkawan sama dia seorang, hasilnya, aku hanya larut pada diriku, larut pada dirinya dan seolah merasa hanya hidup dengannya, well, just describe yourself when you fall in love with someone.
Laying my hope to her, believe in her, have faith with her, it’s just her oriented...!
Let her came inside my mind, my soul, my thought, my dream, my life!
I feel owning her so much, so whole, so deep, aku sudah merasa memilikinya, merasa hanya dia harapan satu-satunya... sampai suatu ketika. Aku kehilangannya, aku dilepaskannya!
Then bayangkan ketika kita sudah merasa memiliki seseorang atau sesuatu, kemudian kehilangannya, apa yang kita rasakan? Yep, kepedihan yang amat dalam, kesakit hatian, ke-kecewaan, dan kadang membenci takdir, menyalahkan takdir karena kita telah kehilangannya...
It’s just feel like lost everything! Karena kita merasa memilikinya, kita juga merasa kita tidak akan kehilangannya, takut kehilangannya, dan segalanya!
Dampaknya? Stress, larut dalam kesedihan, kehilangan!
Kembali, kita akan menyalahkan takdir karena kita kehilangan sesuatu, seseorang yang kita miliki, padahal bukan salah takdir, itu adalah konsekuensi, hukum kasualitas!

Konsekuensi kehidupan adalah kematian
Konsekuensi memiliki adalah kehilangan
Konsekuensi pertemuan adalah perpisahan
Konsekuensi hubungan adalah perpisahan


Itulah juga alasan pernyataan dalam agama-ku yang menyatakan bahwa semuanya adalah titipan Tuhan, dan suatu saat akan diambil-Nya, olehnya jangan kita terlalu merasa memiliki karena akan larut dengan kesedihan apabila kehilangannya.

Kini aku sudah mulai mengerti keadaan ini, kesedihanku karena kehilangannya, sudah mencoba untuk menerima konsekuensi dari apa yang aku awali. Meskipun sakitnya belum begitu hilang, inilah proses yang sedang aku jalani. Prinsip ini berlaku untuk manusia dan barang, jangan lah kita merasa terlalu memiliki barang, ketika kita terlalu memiliki sebuah mobil, kita rawat sepenuh hati, selalu takut kehilangan, dan suatu ketika Dia mengambilnya darimu, kita akan terlalu larut dengan kesedihan!
Tapi juga jangan kita tidak merasa memiliki seseorang atau sesuatu... karena kita tidak akan mensyukurinya jika demikian, being balance!

Seorang kawan datang kepadaku dan berkata “jangan mencintai seseorang terlalu dalam” dia berujar lama sebelumnya, namun dasar manusia, baru menyadari sesuatu setelah terjadi! Dan kini terjadi, efeknya terasa begitu pahit, namun ini kuanggap obat untukku, yang pahit tapi menyehatkan, akan kuambil intisari dari semua ini, akan kuambil pelajaran dari semua ini, terimakasih kawan-kawanku yang selalu mengingatkanku...

Oh she, she turn my whole life so blue, then she drowning me so deep, I just can’t reach myself again...
Oh she, successfully tore my hearth, now it’s only pieces, oh nothing left but pieces of she...


Let’s take another learning from my experience...

Saturday, July 14, 2007

Learning is Everywhere

Semarang. 06:32 10/07/07


Learning is everywhere

“kalo mau bikin brosur, kita harus perhatikan apa pesan yang mau disampein, trus bikin yang baca itu penasaran sama isi brosurnya, penawaran kita yang menarik hurufnya digedein, biar orang semakin penasaran dan tertarik” sembari menunjukan brosur salon mobil yang ada tulisannya “hanya dengan Rp.75.000, mobil anda akan mengkilap selama setahun”.
Kemudian cerita lagi, kalau bisnis salon kaya gini, yang kita perhatikan service, jadi kalo ada pelanggan puas, dia bisa ajak temen-temennya untuk salon juga disini, jadi bisa promosi mulut-ke-mulut, itu promosi yang paling murah dan efektif, jelasnya lagi... well, waktu saya denger cerita dia, saya pertama langsung ngira ni orang paling engga lulusan ekonomi or marketing, secara dia juga owning business salon mobil di daerah sriwijaya, namanya “Nu Glow” (jadi promosi :-p) mungkin temen-temen sudah ada yang pernah cuci mobil disana (yang pasti hutomo, anak menejemen 2004) dah sering kesana, hoho...

But ternyata aku bicara dengan seorang lulusan SD! Tapi bahasannya berat maaan! Omongannya udah mulai niruin hermawan kertajaya soal marketing... then aku tanya kenapa dia bisa ngerti bahasan-bahasan diatas... ternyata dia sering juga share sama orang-orang pemasaran, dan sering share ilmu sama orang-orang yang ahli, dia cerita kalo dulu waktu muda dia sering gaul sama pedagang china di jakarta, dan akhirnya dia ketularan jadi pengusaha setelah memilih Semarang sebagai tempat usaha salon-nya. Kenapa dia milih usaha mobil dan perbengkelan, karena ternyata lagi, dia banyak belajar sama tukang tambal ban, tukang bengkel sepeda motor, pernah belajar sama salon mobil dijakarta waktu kerja disana...

Yup..yup!! learning is everywhere... justru learning yang banyak sebenernya ada diluar kelas dengan puluhan meja, lengkap dengan proyektor, black or white board tambah dosennya. Dan anehnya, kita selalu terkotaki dengan mindset yang seolah ilmu itu hanya bisa kita dapatkan di bangku sekolah/kuliah lengkap dengan title dibelakangnya yang manjang-manjangin nama dan bikin penuh kartu nama. .SE; .AKT; .MBA; .PhD. dsb padahal banyak sekali ilmu-ilmu yang bermanfaat diluar sana, yang lebih praktis (terapan) dan tidak hanya sekedar teoritis. Justru ilmu-ilmu itu yang lebih aplikatif dan kita akan lebih mengerti dengan mencari prakteknya langsung. yep! Learning by observe & doing is the best way

Menurut saya modal buat jadi orang pintar & sukses itu ga banyak-banyak amat, cukup quick learning & observasi, kalo kata Adri Maadsa (penyebar virus entrepreneur) jurusnya adalah ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). Dan anda akan bisa mempelajari segala sesuatu, better yet, being successful from what you have learn! Kenapa dengan observasi, karena kita mempelajari sesuatu tidak harus selalu dari awal, kita bisa mempelajari dari sesuatu yang sudah jadi dengan mengamatinya, misalnya dalam bisnis, kita ingin membuat cofee shop, kita bisa mengamati cofee shop yang sudah mapan, let say starbucks, then kita benchmark kebaikannya, then kita beri sentuhan diferensiasi yang bikin ciri-khas tersendiri dan paling engga kita bisa lebih sukses daripada memulainya sama sekali dari nol, trial & error pun tidak perlu lagi.
Banyak sekali yang bisa kita pelajari diluar sana, banyak sekali ilmu yang selalu mengalir dan siap untuk kita serap. Setiap saya service mobil ke bengkel, saya selalu mengamati, apa yang dikerjakannya, bagian mana yang ditangani, then suatu saat jika mobil saya kumat lagi, saya sudah tidak perlu lagi keluar duit untuk ongkos bengkel apabila memang saya bisa menangani sendiri, tanpa abang bengkel sadari saya sudah belajar dari dia dan mencuri ilmu-ilmunya, jadi ongkos biaya bengkel itu terasa worth it karena selain mobil jadi bener, saya juga dapet kursus mbengkel.

Let’s learn something out there buddy...! again, learning is everywhere brother & sister...

The Philantropist

The Philanthropist
Semarang 22:47 09/07/07

Someday, aku baca sebuah buku bagus karangan Ipho, didalamnya ada sebuah pernyataan yang mungkin sedikit controversial… dalam buku itu Ipho berkata “di jaman ini, kita tidak lagi menemui seorang sufi (-in muslim- orang yang mengabdi untuk agama) di Masjid, di Gereja, pura, atau di tempat ibadah lainya, tapi di meja rapat CEO” kenapa dia bilang begitu, karena angka penderma terbesar justru orang-orang yang bertitle CEO, sampai-sampai dalam bukunya dia menggambarkan seperti ini:

Di akhirat kelak, seorang guru, dokter, dan kyai saling berebut untuk memasuki pintu surga dulu. Kemudian untuk memutuskan siapa yang paling berhak masuk surga pertama, mereka saling menceritakan kebaikan mereka masing-masing, sang guru bercerita mengenai pengabdian dia mencetak generasi yang pintar dan jenius, kemudian sang dokter menceritakan pengalamannya menyelamatkan ratusan jiwa manusia selama dia mengabdi, sang kyai juga turut bercerita menganai abdinya untuk membawa orang yang telah sesat ke jalan-Nya. Kemudian datang seorang C.E.O, lantas sang kyai ber-ujar, wah, orang ini yang sering sekali menyumbang di mesjid di daerah saya sehingga mesjid saya menjadi berkembang dan kita bisa melayani jemaat yang lebih banyak, si dokter pun turut berujar, wah bapak ini yang membantu pembangunan di rumah sakit kami, sehingga fasilitas di rumah sakit kami semakin baik dan menambah cepat kesembuhan pasien, sang guru pun juga ikut berkata, wah, bapak ini yang membangun sekolah kami sehingga bisa menampung banyak murid dan menambah fasilitas sekolah. Kemudian mereka bertiga kompak menyilahkan sang C.E.O memasuki pintu surga terdahulu...

Well... cerita diatas hanya plesetan, dan yang ngomong bukan saya, tapi pak Ipho dalam bukunya, saya hanya menyampaikan... tapi kenyataannya memang demikian, tanpa bermaksud membantu orang lain ria (-islam- menyombongkan kegiatan baik) kita lihat saja Bill Gates yang konon menyumbangkan pendapatan bersinya hingga 60%, Bono dan rekan musisinya membentuk sebuah lembaga yang bertujuan recovery daerah yang dilanda bencana di negara-negara miskin & berkembang... orang-orang seperti inilah yang menjadi semacam “invisible hand” tangan-tangan yang tak terlihat yang membantu dunia ini menjadi lebih baik dengan kegiatan philanthropy mereka... dalam perjalanan di kereta menuju Semarang dari Bandung karena kereta Harina dinginya puooool, aku main ke kereta makan buat ngebul, ngaso dan menghangatkan diri dari AC gerbong yang dingin banget, then saya ngobrol-ngobrol sama orang yang ada disana, dan salah satunya ada yang cerita kalo ada bapak-bapak yang biasa naik kereta ini, dia punya kebiasaan selalu bawa satu dos mie, dan dia bagikan mie-mie tersebut ketika kereta stop di stasiun keciil, dia bagikan mie itu ke penjaga kereta, tukang sapu dan sebagainya... begitu saya mendengar cerita itu saya langsung termenung beberapa saat... orang-orang seperti inilah yang turut membantu kelaparan, meski kecil tapi sungguh berarti bagi mereka yang membutuhkan... dalam blog saya ini saya ingin menyampaikan kekaguman mereka, beliau-beliau yang mau membagikan kebahagiaanya walaupun kadang tidak seberapa...

Then again saya teringat saya teringat atas sebuah ungkapan dari seorang alumni AIESEC, Mr. Arief, dia berkata “the more you give – the more you get” ungkapan sederhana yang dalam agama Islam keyakinan saya pun tersebut didalamnya, namun jarang kita hayati. Dan mungkin kausalitas itu benar adanya.... karena toh, para philanthropist- philanthropist ini tetap tidak merasa kekurangan dalam kegiatan mulianya... if we give more to the people, then, we’ll got more from them, in unexpected way... God’s Secret...!

Let’s we learn from them... the philanthropist!

Sunday, July 8, 2007

harga Sebuah Kreativitas

Bandung 22:28 08/07/07
Harga sebuah ke-Kreativitas

Ini sekaligus menjawab betapa nyamannya menjadi orang kreativ, betapa dunia ini monoton tanpa sentuhan orang-orang kreativ, dan betapa tidak bernilainya benda-benda disekitar kita tanpa sentuhan orang kreativ… lantas berapa sih harga sebuah ke-kreativitasan? Ada perbandingan yang menarik, terus terang saya mengutip ini dari sebuah tulisan artikel. Andaikan kita mengambil sekilo besi, berapa kira2 hatrga besi mentah tersebut? Harganya sekitar 2000/kilo, lantas berapa kira2 harganya kalo sekilo besi itu kita jadikan paku? Harganya kira-kira 5000/kilo, lantas berapa kira2 besi itu kalo kita jadikan onderdil mobil? Mungkin bisa lompat menjadi 50.000, lalu gimana kalo kita jadikan onderdil jam? Part-part kecil dari sebuah jam? Let’s say jarum jam, Harganya bisa mencapai 100.000 satu kilo! Dan harga sebuah kreativitas adalah selisih antara harga bahan yang telah jadi (dengan sentuhan kreativitas) dikurangi harga bahan diawal. Itulah harganya!!! Bisa berates-ratus kali lipat dari harga bahan awal!
Sperti halnya pelukis, yang bisa menyulap sebuah kanvas 20.000 dengan cat minyak 50.000 bisa menjadi sebuah lukisan yang harganya berjuta-juta!!! Itulah harga sebuah ke-kreativitasan!

Ke-kreativitasan sangat mempengaruhi kualitas seseorang, dilihat dari segi yang lebih makro, ke-kreativitasan individu dalam suatu masyarakat juga sangat mempengaruhi kemajuan sebuah kota, bahkan sebuah Negara! Sebuah kota yang kreativ biasanya memiliki suatu ciri-khas sendiri, let say Bandung! Apa khasnya? Fashion? Entertainment business-nya, textile mereka dan lainnya, uniknya lagi, ke-khasan mereka tidak statis, tapi dinamis! Datang kebandung sekarang, kemudian datang ke bandung 3 bulan kemudian, mungkin anda akan menemui hal-hal baru yang berubah, hebatnya lagi menjadi tren setter! Terus terang, banyak yang bisa saya pelajari, terlebih dari tata-layout dari entertainment business di Bandung, I pending my departure to Semarang till tomorrow! Coz when this afternoon I went to “Paris Van Java” di daerah sukajadi bandung, aku bener2 tertegun dengan design layout café, resto, store, dan sampai night club mereka, karena 5 bulan yang lalu saya ke bandung, paris van java belum jadi dibangun. Jadi saya baru tau ke-kerenan paris van java, konsepnya walking area, mirip2 ciwalk, tapi konsep yang diusung sedikit berbeda… then I decide I’m gonna stay one more day buat jalan-jalan ke paris van java lagi esok harinya. Selain mau refreshing, sekalian buat ngumpulin ide dan inspirasi! Yep! This city inspire me a lot! And I’m gonna implement it on my café, wish me & my team luck!

Again, creativity is worthed! Hal yang nothing bisa menjadi something. Dibandung, let see ciwalk, sebuah tanah yang harganya relative murah, bisa menjadi tempan nongkrong kelas atas… begitu juga paris van java, daerah pinggiran bandung (no offense orang sukajadi :-p) bisa menjadi center of interest bandung yang kesekian karena sentuhan kreativitas dari developernya

Ditangan orang kreativ, suatu hal yang nothing bener-bener menjadi something! Sampah bisa menjadi aksesoris, eceng gondok bisa menjadi tas, biji tumbuhan bisa menjadi bahan bakar alternative, and else!!!

That’s why orang kreativ itu sangat diperlukan dimuka bumi ini! Then, how creative are you?

Harga Sebuah Kecerobohan

Sloppy!!! Careless!!! Messy!!! Itu yang paling sering dihujat orang banyak terhadap saya… mulai dari keluarga, teman, team kerja se-organisasi, bahkan orang baru kenal sekalipun! Termasuk pacar, ehm, karena aku diputusin dia 15 hari lalu berarti mantan pacar. Juga mengeluhkan kelemahan saya yang satu ini… ceroboh! Dan tergesa-gesa…well ga perlu ditanya lagi seberapa sering saya melakukan kecerobohan ini… review aja deh, just bulan juli ini… uuummmmm, aku nyari team kerja untuk usaha ku terlalu tergesa-gesa, ketika interview aku lupa catet nama & identitas mereka, walhasil aku terpasksa ngejar2 lagi mereka, then, suatu ketika di awal bulan aku ada accident (this time isn’t my fault) aku ditabrak seorang ibu2, setelah nego, suami ibu tersebut mau membenahin mobilku ke bengkel dan mobilku nginep dibengkel, what stupid? I forget to take my room’s key di mobil, then aku ga bisa masuk kamar dan aku kembali ke bengkel, yang jaraknya di pedurungan ujung, padahal aku di sriwijaya (orang Semarang pasti tau jauhnya itu) untuk seorang teman yang baik mau meminjamkan motornya… then… aku nyaris kehilangan handphone aku… suatu ketika, perjalanan aku kejakarta, waktu aku mau ke shelter bis mau berangkat ke Jakarta, aku hampir melupakan nokia-ku setelah ku cek dimobil ga ada, aku sama temen2 kostku melakukan pencharian, dikamarku juga ga ada, tas bawaanku sempet dibongkar ga ada, then (kok rada telat ya) baru aku miskol hpnya, trus temenku yang kebetulan mendengar mengambil hpku yang tergeletak, dimana? Dipagar luar jalan!!! Mungkin jatuh waktu aku mau buka pagar utama kostanku, well guy’s, didepan jalan raya! Thank’sfully waktu itu malem, dan jalanan lagi sepi, karena kalo engga, siapa yang matanya ga berbinar klo liat hp ditengah jalan??
Setelah mendapat sedikit wejangan dari teman kostku mengenai kecerobohanku, kemudian perjalanan ke shelter bis aku lakukan…

Dari Jakarta aku ke cianjur, ada janjian ketemu sama temen bapak, dia baik sekali pingin ngasih aku pinjaman modal untuk bisnis yang lagi aku garap, hanya ternyata proses pecairan dananya ga sesimple apa yang ada dikepalaku, aku pikir, aku ke bank BPR di cianjur, kemudian bawa dana hutangan itu cash, or di transfer lah kerekeningku paling engga, but ternyata engga, aku harus isi serangkaian syarat2 yang ga dikit, then dia bilang kalo udah beres dananya langsung si transfer… merasa urusan beres aku berniat pulang, but wait..! ini cianjur, deket sama bandung, then aku pulang ke bandung akhirnya… mo jalan-jalan itung-itung survey bisnis yang serupa di bandung buat memperkaya referensi aku bikin bisnis di Semarang… then aku ke bandung, aku pernah 8 tahun dibandung, dan ada rumah keluarga disana, rumah sederhana…. Then setelah dibandung, ke-esokan harinya aku mendapat kabar dari penjabat bank, kalo dananya sudah ditransfer, mohon dicek saldo rekening anda, ujarnya…. Bagai kesamber geledek akupun meminjam motor Tiger sepupuku yang menempatin rumah bandung, dan melaju kencang ke-arah ATM BCA… dalam komplek aku melakukan 40KM/jam kecepatan fantastis untuk komplek sekecil itu, then suddenly kecerobohanku yang paling parah dalam bulan ini (ya Tuhan, jangan biarkan aku mengalami kecerobohan yang lebih gilaa lagi dari ini) “BRAK…!!!!!!!” ANJRIT!!! Aing teu ningali aya becak euy!!! (saya ga ngeliat ada becak!!) motor tigernya terpelanting kanan kiri (yup@ beneran kanan kiri, ada bekasnya di aspal soalnya) padahal yang ditabrak Cuma becak, tapi ga nyangka separah itu efeknya walhasil? Tuas persneling motor patah, body kiri kena, tuas rem bengkok 90 derajat, dudukan lampu kena, setang bengkok kanan kiri (totally bengkok man!!) dan yang paling parah, kaki kanan keseleo luar biasa lengkap dengan lecetnya… kaki kanan ada 2 luka lecet, memar, jempol kanan keseleo, sampe2 ga bisa nulis, (padahal tanggal 12 ada ujian, mampus gue kalo ni jempol ga bisa diajak kompromi dalam 5 hari) pundak kanan keseleo, tangan kanan ada lecet memar sepanjang 10 centi, lengkap dengan penghias lecet di kepalan tangan…! Oh ya, satu lagi! 10.000 melayang gara-gara tukang becak minta ganti rugi, (herannya becaknya teh teu, nanaon alias ga apa-apa, cuman lis-lisan roda kiri patah, dan dudukan tempat duduknya copot, that’s all…! Makanya saya heran, kok yang saya tabrak becak, tapi becaknya ga apa-apa! Let’s get rid of it…! Then what’s happen next saya ga bisa cek saldo saya untuk mengetahui apakah dana bantuan modalnya sudah tertransfer dengan baik atau belum. Yang ada malah serangkaiann sakit yang ga nahaaaaaan, waktu sholat aja nahan sakit waktu tashyahud… dan motor sepupuku ga bisa jalan, ya iya lah, tuas perseneling patah, gimana mau masuk gigi!
Akhirnya saya ga bisa survey apa-apa dibandung…! Padahal aku sempat nanya harga aksesoris penghias calon kafeku lebih murah dibandung 50%! Dari harga wallpaper, neon-sign dsb…! Damn shit aku ga sempet cek langsung, padahal aku bisa hemat ongkos produksi kalo aku sempet cek pasar!

Yep! Itulah harga dari sebuah kecerobohanku (lagi) kerusakan motor ditaksir mencapai 100an ribu (stang sama nge-las tuas perseneling) untung adik spupuku mau kompromi, jadi patungan, karena sebelumnya dia memang jatuh dan stangnya udah rada bengkok, dan emang dia ada niat ganti… kemudian kesempatan aku selama dibandung tidak bisa aku manfaatkan dengan baik…! I lost my oportnity, seharian tanggal 07-07-07 kemarin aku habiskan dirumah, keluar ga bisa, karena motor masih mangkrak dan aku hanya membuang waktuku di bandung tanpa bisa menikmati keindahan dan kesempatan untuk survey di bandung!!! (kata siapa tanggal tersebut tanggal untung? Yang ada bunting!!!) Kalau saja aku lebih sabar waktu mau ke-ATM, at least, ga ngebut, mungkin aku ga akan menabrak becak, but regrets is never gives result, but I hope I can acquire more learning from my mistake!

Yup buddy!!! Kata om elvis mah, “wise man say, only fools rush in” bener! Hanya orang bodoh yang tergesa-gesa, tergesa-gesa disini dalam arti terlalu menuruti emosi tanpa logika dan perhitungan! Dan ini aku alami, kecerobohanku, ke-tidak perhitunganku dan ke emosional-anku dalam menghadapi masalah menghasilkan sebuah kejadian yang di satu sisi merugikanku sekali, disisi lain seakan mengingatkanku…! Jangan ceroboh!!! Rugi sendiri kamu!!!
Thank’s teman-temanku, mbak ditha, mama, papa, adit yang selalu mengingatkanku. JANGAN CEROBOH DENNY…!!! Semoga kalian tetap mengingatkanku yang selalu bebal ini!


Another learning God given to me!

Saturday, June 30, 2007

Emotional Marketing

Suatu ketika dalam perjalanan saya menuju Semarang dari Surabaya dengan menggunakan Bus yang (klaim-nya) Cepat terbatas, ketika saya menunggu bus untuk berangkat, seperti biasa banyak pedagang asongan menawarkan barang dagangannya dengan berbagai cara, ada yang langsung menaruh barang dagangannya ke pangkuan kita entah kita akan membeli atau tidak, dan ada yang memamerkan kehebohan barangnya didepan para penumpang, berharap sang calon konsumen tertarik, dan tentu saja yang paling diharapkan adalah terjualnya barang dagangan oleh konsumen. Namun ada yang unik dari cara para asongan ini, mungkin sebenarnya hal ini sering kita alami, hanya jarang kita perhatikan. Diantara mereka ada yang melakukan emosional marketing. Mengacu kepada teori Hermawan, seorang marketer yang konon adalah Guru marketing asia. Dalam teorinya beliau berujar bahwa konsumen sudah tidak lagi rasional, tapi emosional, sehingga preferensi dan pembelian sudah mulai bergeser ke-arah emosional, sehingga tinggal bagaimana sang marketer mengambil hati konsumen dan mengarah ke pembelian konsumen.
Kembali ke masalah mas-mas pedagang asongan dalam bis PATAS, ada salah satu penjual gethuk yang melakukan emosional approach kearah calon konsumennya yang banyak diantaranya kemudian menjadi konsumennya. Dengan cepat dia menganalisis pasar, mencari bahan yang akan dimarketingkan dan approachingpun langsung si mas ini lakukan, dengan seorang wanita yang duduk diseberang kiri saya yang (sebenernya) ndeso tapi berhasrat menjadi orang kutha (kota –dep-) dengan pintar si mas ini menggoda si mbak yang dengan noraknya berpakaian, dengan kenorak-annya sudah bisa dipastikan bahwa si mbak ini lagi nyari perhatian lawan jenisnya, si mas yang tidak diketahui namanya ini terus-menerus memuji kecantikan si mbak ini, si mbak yang tersipu seakan terbius dengan rayuannya dan dari dompetnya pun keluar uang puluhan ribu yang segera ditukar dengan gethuk. Kemudian berjalan dia ke baris meja depan, ada seorang ibu-ibu yang mungkin kelihatannya suka ngegosip, setelah mungkin si mas nya mengetahui kegemaran si ibu, lantas dia mulai berbicara masalah artis ibu kota yang sedang marak, dan uniknya ternyata mas penjual gethuk ini punya dagangan Koran juga, dengan segera dia menawarkan sebuah majalan genie dan akhirnya ditukar dengan beberapa lembar ribuan dari si ibu ini, dan dengan beberapa jurus lagi gethuk pun terjual!. Beberapa menit kemudian, datanglah seorang bapak-bapak dengan busana religius islam memasuki bis yang saya tumpang. Dan ajaibnya, si mas yang mungkin pernah baca bukunya hermawan ini mendadak berubah dan tiba-tiba dia melafalkan doa-doa dan mendekati si bapak paruh baya ini, dan dengan jurus apa saya kurang memperhatikan, karena kursi saya agak berjauhan dengan kursi bapak itu, namun satu yang saya lihat, bungkus gethuk ditangannya berkurang lagi!!! Dan begitulah selanjutnya dia menjual gethuknya! Apakah saya didekati? Iya! Dengan bergaya anak muda dia mendekati saya! Namun masak jeruk makan jeruk! Saya juga sebagai marketer bung! Tau trik-trik pengambil hatian semacam itu, dan saya masih rasional karena saya memang tidak suka gethuk, maka saya ga beli dong, biar dia sempat ngajak saya berbicara agak lama, tapi soal gethuk, sori, saya ga doyan, diantara 10-15 pedagang asongan yang merayu dagangannya hanya satu yang saya beli, sebotol aqua yang lebih mahal Rp.500,- dari harga pasaran, karena saya masih haus.

Dari sepenggal kisah saya dapat dilihat praktik emosional marketing, sebuah strategy marketing yang memang sangat efektif, apalagi di negeri sanguine seperti Indonesia yang banyak masyarakatnya senang dengan penghargaan diri yang kadang berlebihan, ini sangat menguntungkan bagi marketer untuk mengambil hati pelanggannya! Price dan function terkadang sudah tidak diperhatikan lagi, yang ada adalah value, prestige, and emotional bonding between consumer and marketer!